free counters
Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 November 2010

KIAMAT 2012 bagian 2

Pada manuskrip peninggalan suku Maya yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan ini, disebutkan pada tanggal di atas akan muncul gelombang galaksi yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini.

Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975.

Dijelaskan, Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, badai Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik.

Gangguan cuaca Matahari ini dapat memengaruhi kondisi muatan antariksa hingga memengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS) dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan manusia. ”Karena gangguan magnet Bumi, pengguna alat pacu jantung dapat mengalami gangguan yang berarti, ujar Sri.

Langkah antisipatif

Dari Matahari, miliaran partikel elektron sampai ke lapisan ionosfer Bumi dalam waktu empat hari, jelas Jiyo Harjosuwito, Kepala Kelompok Peneliti Ionosfer dan Propagasi Gelombang Radio. Dampak dari serbuan partikel elektron itu di kutub magnet Bumi berlangsung selama beberapa hari. Selama waktu itu dapat dilakukan langkah antisipatif untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, lanjut Bambang, Lapan tengah membangun pusat sistem pemantau cuaca antariksa terpadu di Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan Bandung. Obyek yang dipantau antara lain lapisan ionosfer dan geomagnetik, serta gelombang radio. Sistem ini akan beroperasi penuh pada Januari 2009 mendatang.

Langkah antisipatif yang telah dilakukan Lapan adalah menghubungi pihak-pihak yang mungkin akan terkena dampak dari munculnya badai antariksa, yaitu Dephankam, TNI, Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta pemerintah daerah. Saat ini pelatihan bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak lama, kini telah ada sekitar 500 orang yang terlatih menghadapi gangguan sinyal radio.

Bambang mengimbau PLN agar melakukan langkah antisipatif dengan melakukan pemadaman sistem kelistrikan agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk. Untuk itu, sosialisasi harus dilakukan pada masyarakat bila langkah itu akan diambil.

Selain itu, penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan satelit GPS sebagai sistem navigasi hendaknya menggunakan sistem manual ketika badai antariksa terjadi, dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawat terbang.

Perubahan densitas elektron akibat cuaca antariksa, jelas peneliti dari PPSA Lapan, Effendi, dapat mengubah kecepatan gelombang radio ketika melewati ionosfer sehingga menimbulkan delai propagasi pada sinyal GPS.

Perubahan ini mengakibatkan penyimpangan pada penentuan jarak dan posisi. Selain itu, komponen mikroelektronika pada satelit navigasi dan komunikasi akan mengalami kerusakan sehingga mengalami percepatan masa pakai, sehingga bisa tak berfungsi lagi.

Saat ini Lapan telah mengembangkan pemodelan perencanaan penggunaan frekuensi untuk menghadapi gangguan tersebut untuk komunikasi radio HF. ”Saat ini tengah dipersiapkan pemodelan yang sama untuk bidang navigasi, tutur Bambang.

Sumber : kompas.com

KIAMAT 2012 bagian 1

Dalam kalender bangsa Maya, diramalkan bahwa pada periode 1992-2012 bumi akan dimurnikan, selanjutnya peradaban manusia sekarang ini akan berakhir dan mulai memasuki peradaban baru.

Dalam sejarah peradaban kuno dunia, bangsa Maya bagaikan turun dari langit, mengalami zaman yang cemerlang, kemudian lenyap secara misterius. Mereka menguasai pengetahuan tentang ilmu falak yang khusus dan mendalam, sistem penanggalan yang sempurna, penghitungan perbintangan yang rumit serta metode pemikiran abstrak yang tinggi. Kesempurnaan dan akurasi dari pada penanggalannya membuat orang takjub!

Sekelompok masyarakat yang misterius ini tinggal di wilayah selatan Mexico sekarang (Yucatan) Guetemala, bagian utara Belize dan bagian barat Honduras. Banyak sekali pyramid, kuil dan bangunan-bangunan kuno yang dibangun oleh Maya yang masih dapat ditemui di sana. Banyak juga batu-batu pahatan dan tulisan-tulisan misterius pada meja-meja yang ditinggalkan mereka. Para arkeolog percaya bahwa Maya mempunyai peradaban yang luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari peninggalannya seperti buku-bukunya, meja-meja batu dan cerita-cerita yang bersifat mistik. Tetapi sayang sekali buku-buku mereka di perpustakaan Mayan semuanya sudah dibakar oleh tentara Spanyol ketika menyerang sesudah tahun 1517. Hanya beberapa tulisan pada meja-meja dan beberapa system kalender yang membingungkan tersisa sampai sekarang.

Seorang sejarahwan Amerika, Dr. Jose Arguelles mengabdikan dirinya untuk meneliti peradaban bangsa ini. Ia mendalami ramalan Maya yang dibangun di atas fondasi kalender yang dibuat bangsa itu, dimana prediksi semacam ini persis seperti cara penghitungan Tiongkok, ala Zhou Yi. Kalendernya, secara garis besar menggambarkan siklus hukum benda langit dan hubungannya dengan perubahan manusia. Dalam karya Arguelles, The Mayan Factor: Path Beyong Technology yang diterbitkan oleh Bear & Company pada 1973, disebutkan dalam penanggalan Maya tercatat bahwa sistim galaksi tata surya kita sedang mengalami ‘The Great Cycle’ (siklus besar) yang berjangka lima ribu dua ratus tahun lebih. Waktunya dari 3113 SM sampai 2012 M. Dalam siklus besar ini, tata surya dan bumi sedang bergerak melintasi sebuah sinar galaksi (Galatic Beam) yang berasal dari inti galaksi. Diameter sinar secara horizontal ini ialah 5125 tahun bumi. Dengan kata lain, kalau bumi melintasi sinar ini akan memakan waktu 5125 tahun lamanya.

Orang Maya percaya bahwa semua benda angkasa pada galaksi setelah selesai mengalami reaksi dari sinar galaksi dalam siklus besar ini, akan terjadi perubahan secara total, orang Maya menyebutnya, penyelarasan galaksi (Galatic Synchronization). Siklus besar ini dibagi menjadi 13 tahap, setiap tahap evolusi pun mempunyai catatan yang sangat mendetail. Arguelles dalam bukunya itu menggunakan banyak sekali diagram-diagram untuk menceritakan kondisi evolusi pada setiap tahap. Kemudian setiap tahap itu dibagi lagi menjadi 20 masa evolusi. Setiap masa itu akan memakan waktu 20 tahun lamanya.

Dari masa 20 tahun antara tahun 1992-2012 itu, bumi kita telah memasuki tahap terakhir dari fase Siklus Besar, bangsa Maya menganggap ini adalah periode penting sebelum masa pra-Galatic Synchronization, mereka menamakannya: The Earth Generetion Priod (Periode Regenerasi Bumi). Selama periode ini bumi akan mencapai pemurnian total. Setelah itu, bumi kita akan meninggalkan jangkauan sinar galaksi dan memasuki tahap baru: penyelarasan galaksi.

Pada 31 Desember 2012 akan menjadi hari berakhirnya peradaban umat manusia kali ini, dalam perhitungan kalender Maya. Sesudah itu, umat manusia akan memasuki peradaban baru total yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sekarang. Pada hari itu, tepatnya musim dingin tiba, matahari akan bergabung lagi dengan titik silang yang terbentuk akibat ekliptika (jalan matahari) dengan ekuator secara total. Saat itulah, matahari tepat berada di tengah-tengah sela sistem galaksi, atau dengan kata lain galaksi terletak di atas bumi, bagaikan membuka sebuah “Pintu Langit” saja bagi umat manusia.

Dalam perhitungannya, bangsa Maya tidak menyinggung tentang apa penyebab peradaban kali ini berakhir. Ada sedikit yang kelihatannya jelas, bahwa berakhirnya ‘hari itu’ sama sekali bukan berarti malapetaka apa yang datang menghampiri, melainkan mengisyaratkan kepada seluruh umat manusia akan adanya transisi dalam kesadaran dan spiritual kosmis, selanjutnya masuk ke peradaban baru. Tahun 755 Masehi, seorang rahib Maya pernah meramal, setelah tahun 1991 kemudian, akan ada dua peristiwa penting terjadi pada manusia yaitu kebangkitan kesadaran, dan pemurnian bumi serta regenerasinya.

Mulai 1992, bumi memasuki apa yang oleh bangsa Maya disebut ‘Periode Regenerasi Bumi”. Pada periode ini, Bumi dimurnikan, termasuk juga hati manusia, (ini hampir mirip ramalan orang Indian Amerika-Utara terhadap orang sekarang ini), subtansi yang tidak baik akan disingkirkan, dan substansi yang baik dan benar akan dipertahankan, akhirnya selaras dengan galaksi (alam semesta), ini adalah singkapan misteri dari gerakan sistem galaksi kita yang diperlihatkan oleh bangsa Maya.

Dari titik pandang ilmu pengetahuan umat manusia sekarang, hal itu benar-benar tidak dapat dipercaya. Mungkin saja bangsa Maya sedang membicarakan tentang galaksi Bima Sakti (Milky Way), yang mana ilmu pengetahuan dan teknologi kita belum juga sampai ke solar sistim, seperti pepatah orang Tionghoa mengatakan “Serangan musim panas tidak dapat menjelaskan es di musim dingin”. Fenomena kosmik yang diperlihatkan oleh kalender Maya adalah benar-benar berharga dari suatu penyelidikan yang serius oleh umat manusia sekarang ini.

ARAH RAMALAN ITU

Sejak tahun 1992 sampai 2012 nanti, bagaimana terjadi “pemurnian” dan bagaimana pula terjadi “regenerasi” pada bumi kita ini, tidak disebutkan secara detail oleh bangsa Maya. Dalam ramalan mereka pun tidak menyinggung tentang apa hal konkret yang memberikan semangat manusia untuk bangkit dari kesadaran dan bagaimana bumi mengalami permurnian, yang ditinggalkan oleh mereka kepada anak cucunya (barangkali tidak tercatat). Lantas, fenomena baru apa yang sudah bisa kita lihat sejak tahun 1992 sampai sekarang yang bisa kita kaitkan dengan ramalan bangsa Maya yang beradab itu?

Mengamati peristiwa besar 10 tahun belakangan ini (1992-2002), kelihatannya karakter alam semesta, ‘Zhen, Shan, Ren,’ (sejati, baik, sabar) yang diajarkan oleh Master Li Hongzhi, sebagai efek yang sedang ‘memurnikan’ hati manusia dan bumi ini. Kami menemukan dua bilangan yang bermakna, pada 1992 adalah persis tahun pertama kalinya Li Hongzhi mengenalkan ajarannya secara terbuka kepada masyarakat, ditengah-tengah kemrosotan moral umat manusia yang parah.. Dari tahun 1992-1999, dalam waktu yang singkat ini, pengikut latihan kultivasi jiwa dan raga ini sudah mencapai hampir 100 juta orang di daratan China. Kini, latihan ini bahkan sudah menyebar kelebih 60 negara. Melalui kultivasi yang terus-menerus, latihan ini dapat mencapai tujuan mengganti sel-sel manusia dengan materi energi tinggi dan meningkatkan moral manusia sesuai karakter alam semesta serta kembali ke jati diri yang asli.

Mungkin sudah diatur, bahwa kalender Maya tidak hilang dan sejarah manusia, dan harus diuraikan dengan kode oleh manusia sekarang. Namun ia tetap saja harus dilihat, apakah umat manusia yang terpesona oleh konsepsinya yang trerbentuk sesudah kelahiran dapat menembus batas-batas untuk mengingatkan dan memahami kebenaran yang melampoi sistim pengetahuan kita.
resensi : indospiritual.com

Sabtu, 06 November 2010

Warga Pinggiran Sungai Code Mengungsi



Ketinggian air Sungai Code di Yogyakarta, sejak Sabtu (6/11) petang, terus naik dan hampir rata dengan jembatan serta tanggul pembatas sungai. Bahkan, di sejumlah tempat, seperti kawasan Ledok Kotabaru, air sudah mulai masuk ke rumah-rumah warga. Sebagian warga yang rumahnya sudah tergenang memilih mengungsikan ibu-ibu dan anak-anak ke tempat lebih aman Sejak letusan Gunung Merapi kemarin, setiap terjadi hujan di sekitar lereng gunung tersebut, sungai-sungai yang melintas di kawasan Kota Yogyakarta banjir lahar dingin. Selain lumpur pekat, banjir juga membawa pasir dan bebatuan sisa letusan Merapi.
 
Untuk mengantisipasi meluapnya Sungai Code akibat banjir lahar dingin, Pemerintah Provinsi Yogyakarta akan mengeruk dasar sungai tersebut. Pasalnya, dasar sungai sudah dangkal akibat dipenuhi lahar dingin dingin Gunung Merapi sejak Kamis silam. Lantaran itu, Pemprov Yogyakarta telah berkoordinasi dengan Wali Kota Yogyakarta dan muspida setempat, Sabtu (6/11).

Hingga ahkir ini, air di Sungai Code hampir meluap. Karena itu, warga diminta tetap waspada dan bila perlu mengungsi ke tempat lebih tinggi. Sebab, hujan deras terus mengguyur sehingga bisa mengakibatkan banjir yang terjadi secara tiba-tiba.
 

Masker Yang Cocok di Kawasan Merapi


Liputan6.com, Sleman: Semburan abu vulkanik dari Merapi berbahaya bagi kesehatan. Dan penggunaan masker menjadi satu pilihan tepat melindungi diri dari efek abu vulkanik. Namun tak semua masker mampu menangkal masuknya bahan material vulkanik tersebut.

Dalam kasus letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, masker seharusnya berfungsi mengurangi risiko akut seperti iritasi mata dan pernapasan, batuk, dan infeksi. Harga masker yang memiliki filter berupa saringan racun tergolong mahal. Pelindung mulut dan hidung ini dijual seharga Rp 75 ribu hingga Rp 85 ribu.

Berbeda dengan harga masker medis berwarna hijau yang dijual Rp 800 per lembar. Masker jenis ini berfungsi cuma untuk dipakai saat melakukan tindakan medis ringan. Setelah tahu manfaat yang dimiliki masker, rasanya sangat tepat jika mulai mengenyampingkan harga jika ingin menyumbangkan masker bagi warga Yogyakarta.

Sejak Merapi meletus pada 26 Oktober silam, penjualan masker selama dua pekan terakhir melonjak. Beberapa pedagang di Jakarta menjelaskan, penjualan masker meningkat dan bahkan mencapai hingga hampir 50 kali lipat dari biasa.

Selasa, 02 November 2010

Mbah Marijan, Apakah Mati Sujud Beneran ?

Kita sedang studi ayat 165 al-A’raf tentang adzab yang menimpa penduduk Ailah era Bani Isrel dulu. Hari ini, Indonesia masih berkabung setelah dirundung bencana bertubi. Banjir Wasior, Tsunami Mentawai dan gempa Merapi. Tragedi Merapi lebih menarik.
Beberapa hari sebelum Merapi meletus, mbah Marijan, sang juru kunci sudah diminta turun, tapi menolak. Ada kalimat yang terucap dari lisannya “ ..kuatir kecewa kalau terlanjur mengungsi, lalu nggak jadi meletus”.
Ternyata mbah Marijan sudah disepuhkan, dikultuskan dan banyak pengikutnya. Kehidupannya lebih mapan setelah menjadi ikon iklan dan menjadi orang “Roso” karena keyakinannya dulu kebetulan benar. Merapi tak jadi meletus, meski sang raja Jogya dan presiden menyuruh ngungsi. BMKG dan para ilmuwan dianggap salah menganalisis.
Tapi kini dia dalam dilema besar, mau ngungsi atau bertahan. Kayaknya, pilih bertahan  dengan segala risikonya, apa karena tugas atau gensi. Lalu melunak, setelah dibujuk sedemikian gencar. Sayang terlambat dan akhirnya mati terkena debu volkanik saat pamitan mau shalat dulu di masjid.
Sebagai seorang muslim, kita berdoa semoga Allah SWT mengampungi segala dosanya dan menempatkan di sisiNya. Tapi sebagai manusia berakal dan punya hati, kita juga dituntut lebih arif memahami, mana sikap yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan, lalu mengambil pelajaran.
Orang bertugas apapun, tidak boleh mengorbankan nyawanya secara sia-sia. Itu sama dengan bunuh diri, kecuai dengan perhitungan yang sangat bermaslahah atau sangat terpaksa.
Meski dalam perang suci atas agama, tetap ada kalkulasi. Tuhan memerintahkan kita menyelamatkan diri dengan segala cara bila nyata-nyata tidak mampu dan pasti kalah. Hal itu lebih baik, karena masih punya kesempatan menyusun kekuatan dan strategi berikutnya lebih bagus, ketimbang hari itu mati sia-sia dan habis.
Boleh saja mbah Marijan amat patriotik mengemban tugas hingga titik darah terakhir. Tapi perlu diingat, bertugas melawan siapa?. Merapi bukanlah musuh agama, bukan musuh umat islam dan bukan pula musuh Tuhan yang harus dihadapi dengan kekuatan dan jihad angkat senjata.
Merapi adalah alam ciptaanNya yang meletus atas kehendakNya karena ada hikmah yang digagas. Lagian, Merapi tidak bisa dihentikan – maaf – hanya dengan seorang Marijan yang tetap tinggal di lokasi.
Marijan  tidak punya kekuatan signifikan, baik karamah apalagi tehnologi tinggi. Dan nyatanya begitu. Bahkan menghindar dari debu volkanik yang menimpa dirinya saja tak mampu, apalagi lahar panas. Inilah bukti nyata kelemahan seorang Marijan.  
Perkara apakah mbah Marijan mati demi tugas atau demi gensi, atau mati dalam keadaan bersujud seperti wali pilihan atau mati tersungkur seperti umat terdahulu yang diazab (al-Haqqah:7), maka hanya Tuhan yang Maha mengerti. Kita wajib berbaik sangka, semoga beliau diterima di sisiNya. Semoga kita bisa memetik kebaikan dari tragedi ini. 

Pages

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More